Home / Berita / Pengamat: jangan permasalahkan pembangunan pabrik semen

Pengamat: jangan permasalahkan pembangunan pabrik semen


Jakarta (ANTARA News) – Pembangunan pabrik semen di wilayah cekungan air tanah harusnya tidak perlu dipermasalahkan serta jangan dilarang karena tidak merusak sumber air lingkungan yang bisa mengganggu masyarakat, kata pengamat analisis mengenai dampak lingkungan Budi Sulistijo.

“Kita mendapatkan informasi yang salah soal pembangunan pertambangan di wilayah cekungan air tanah atau CAT, mengingat sesungguhnya banyak pertambangan yang berada di wilayah tersebut,” kata Budi saat dihubungi melalui telepon dari Jakarta, Rabu.

Hal itu disampaikan untuk menanggapi rencana pembangunan pabrik PT Semen Indonesia di Rembang, Jawa Tengah.

Menurutnya, penambangan yang tidak boleh dilakukan adalah yang berada di daerah lindung, padahal tidak semua cekungan air tanah (CAT) berada di daerah lindung.

Dia justru mempertanyakan kalau CAT dilarang ditambang lalu bagaimana nasib industri mineral di Indonesia yang selama ini sudah banyak yang beroperasi.

Dikatakan pula, penambangan di daerah CAT tetap boleh dilakukan secara hati-hati jika memang terbukti memiliki sumber air. Sebaliknya, isu sesat mengenai pelarangan pembangunan di wilayah CAT justru akan mematikan industri mineral nasional.

“Sekali lagi banyak pihak yang salah menerima informasi sehingga seolah-olah pertambangan di daerah CAT harus selalu dilarang,” katanya menambahkan.

Jika pembangunan di wilayah CAT dipermasalahkan, katanya, maka Mass Rapid Transportation (MRT) di Jakarta seharusnya juga harus dilarang karena posisinya yang berada di atas CAT Jakarta.

Budi juga mencontohkan sejumlah penambangan migas dan batu bara yang ada di Indonesia juga berada di atas wilayah CAT.

Sementara itu Mantan Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Surono yang dimintai tanggapan soal pembangunan pabrik semen tersebut, sampai saat ini belum bisa dihubungi baik melalui telepon maupun layanan pesan singkat (SMS).

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2017


Sumber : AntaraNews.com