Home / Berita / OJK tingkatkan peran pasar modal sediakan pembiayaan pembangunan

OJK tingkatkan peran pasar modal sediakan pembiayaan pembangunan

Jakarta (ANTARA News) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan terus berupaya untuk meningkatkan peran pasar modal dalam menyediakan pembiayaan pembangunan dan kebutuhan pembiayaan bagi korporasi serta usaha kecil dan menengah.

“Pada 2019 mendatang, seluruh pelaku pasar modal Indonesia bertekad untuk kembali memberikan kontribusi terbaiknya, khususnya untuk mendukung pembiayaan program-program ekonomi prioritas,” ujar Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso dalam sambutan Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia 2018 di Jakarta, Jumat.

Pada 2018, ia menyampaikan, terdapat 24 emiten sektor infrastuktur yang melakukan “fund raising” melalui pasar modal dengan total nilai emisi Rp28,05 triliun.

Selain itu, penerbitan Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK-EBA) terkait infrastruktur dengan nilai sekuritisasi sebesar Rp7,44 triliun.

Kemudian, Efek Beragun Aset berbentuk Surat Partisipasi (EBA-SP) dengan total nilai sekuritisasi Rp3,57 triliun. Dan, Kontrak Investasi Kolektif Dana Investasi Real Estat (KIK-DIRE) dengan nilai sekuritisasi sebesar Rp0,62 triliun.

Dalam rangka meningkatkan likuiditas pasar, Wimboh Santoso juga menyampaikan, pihaknya telah mempercepat penyelesaian transaksi di Bursa Efek menjadi dua hari (T+2) dari sebelumnya T+3.

“Kami mencatat rata-rata volume harian meningkat 37,47 persen dari 9,2 miliar transaksi menjadi 12,8 miliar transaksi dan rata-rata nilai transaksi naik 26,96 persen dari Rp8,1 triliun menjadi Rp10,2 triliun,” paparnya.

Pada kesempatan itu, yang juga dihadiri oleh Presisen Joko Widodo, Wimboh Santoso menyampaikan terima kasih kepada pemerintah yang merespon cepat dan antisipatif mengenai perkembangan ekonomi yang cukup dinamis baik tingkat global maupun domestik sehingga menjaga kepercayaan investor terhadap industri pasar modal nasional.

“Berbagai catatan positif tidak terlepas dari dukungan pemerintah, Bank Indonesia, dan peran serta seluruh pemangku kepentingan lainnya di industri jasa keuangan. Sinergi itu selain menambah kepercayaan publik, khususnya investor, juga memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan industri Pasar Modal secara keseluruhan,” katanya.

Terkait kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 2018, Wimboh mengatakan, IHSG mengalami koreksi, namun masih yang terbaik diantara kinerja bursa saham utama se-Asia Pasifik dan bahkan diantara bursa saham utama dunia.

Berdasarkan data BEI, IHSG mengalami penurunan 2,54 persen menjadi 6.194,49 poin dibandingkan akhir 2017 lalu. Kinerja itu masih lebih baik dibandingkan bursa saham di kawasan Asia Pacific diantaranya Malaysia yang mengalami penurunan 5,83 persen, Filipina turun 12,76 persen.

Selain itu, bursa Hong Kong melemah 14,76 persen, Jepang turun 12,08 persen, Australia turun 7,32 persen. Sementara itu, bursa saham yang mencatatkan kinerja positif hanya bursa india yang maik 6,17 persen.

Baca juga: Presiden apresiasi kinerja BEI akhir tahun di level “hijau”

Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Sumber : AntaraNews.com